Gelas Plastik dan Cahaya Lampu Bohlam


Air di kosanku sering mati, sangat terbatas. kadang kala daripada terlalu lama menunggu air mengalir, aku lebih memilih ke masjid terdekat untuk sekedar menunaikan kewajiban. Walau sedikit merepotkan tapi aku pikir tak apa lah. Kapan lagi aku pergi sholat berjamaah di masjid kalau tidak di saat-saat seperti ini? Kesibukan menjadi salah satu tembok penghalang utama bagiku. Alasan yang klise.
Begitulah yang terjadi saat ini. Aku baru saja pulang dari suatu tempat, dan sesampainya di kosan, sudah waktunya salat maghrib. Tapi air mati. Jadi aku dan seorang kawanku memutuskan berlari ke masjid, mengejar waktu maghrib yang tersisa.
Setelah menunaikan kewajiban tiga rakaat itu, kami memutuskan menunggu yang empat rekaat dan melaksanakannya di masjid saja, karena waktunya juga sebentar lagi. Tak berselang lama, muadzin terdengar menggaungkan Asma-Nya, menyeru pada makhluk-Nya,  mengingatkan sudah masuk waktu menghadap-Nya.
Selepas salam dan dzikir sekenanya, aku dan kawanku merenung sejenak di serambi masjid. Terlihat di kejauhan hamparan yang bermandikan cahaya. Kerlap-kerlip berbagai warna. Tiba-tiba, bagai trailler film, kenangan masa kecilku terbayang dipikiranku.
Dalam ruangan 4x4 meter, yang berisi sebuah ranjang lengkap dengan kasur dan bantal. Dindingnya dihiasi paku-paku yang difungsikan sebagai gantungan baju. Ruangan itu diterangi oleh sebuah lampu bohlam dengan kekuatan lima watt. Redup, namun syahdu.
Malam itu, dengan bekal gelas plastik, ibu mengajariku melakukan rukuk. Saat itu usiaku antara empat atau lima tahun. Kata ibu, rukuk yang benar itu punggungnya harus lurus, sejajar. Berkali-kali aku mengulangi rukukku, berkali-kali gelas itu terjatuh, menggelinding, dan berkali-kali juga ibu memungut dan meletakkannya kembali di atas punggungku.
Tak kenal menyerah, dia terus mengajariku sampai aku bisa.
“heh, kamu kenapa?”, sebuah suara menyadarkanku dari arus kenangan masa laluku. Aku hanya menjawab pertanyaan kawanku itu dengan senyum simpul. Sedetik kemudian kusadari pipiku basah terkena sesuatu yang jatuh dari mata.
 ............................
S, April 2017


Komentar